Petunjuk TeknisPenyusunan Program Pengembangan Diri


Diposkan oleh : Yuswan

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan yang berfungsi sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.Tujuan tertentu ini meliputi tujuan pendidikan nasional serta kesesuaian dengan kekhasan, kondisi dan potensi daerah, satuan pendidikan dan peserta didik.

Oleh sebab itu, KTSP harus disusun sesuai dengan kebutuhan, karakteristik, dan potensi satuan pendidikan (internal) serta lingkungan di daerah setempat.Salah satu komponen utama Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah struktur
dan muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Muatan KTSP meliputi sejumlah mata pelajaran yang keluasan dan kedalamannya merupakan beban belajar bagi peserta didik, muatan lokal, dan kegiatan pengembangan diri pada satuan pendidikan.
Kegiatan pengembangan diri merupakan kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran sebagai bagian integral dari isi kurikulum sekolah. Kegiatan pengembangan diri merupakan upaya pembentukan watak dan kepribadian peserta didik yang dilakukan melalui kegiatan layanan konseling dan kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan ekstrakurikuler merupakan wadah yang disediakan oleh satuan pendidikan untuk menyalurkan minat,
bakat, hobi, kepribadian, dan kreativitas peserta didik yang dapat dijadikan sebagai alat untuk mendeteksi talenta peserta didik.
Penyelenggaraan kegiatan pengembangan diri yang dilaksanakan oleh satuan pendidikan memang banyak kendala, di antaranya:

  1.  Seluruh sekolah telah melaksanakan program pengembangan diri, namun belum semuanya menyusun program/panduan pelaksanaan sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Standar Pengelolaan;
  2.  Guru Bimbingan Konseling (BK) dalam pengembangan diri di sejumlah sekolah belum diberdayakan secara optimal;
  3.  Pelaksanaan layanan konseling di sekolah pada umumnya masih terbatas pada hal-hal yang berkaitan dengan masalah individual di bidang sosial, belum megarah pada layanan akademik yang terstruktur;
  4.  Belum semua sekolah mampu mengembangkan penilaian program pengembangan diri, sehingga penilaian sering hanya dilakukan berdasarkan intuisi saja;
  5.  Masih terdapat guru BK yang menganggap bahwa pengembangan diri adalah matapelajaran, sehingga harus ada Standar Kompetensi (SK), Kompetensi Dasar (KD), silabus, dan wajib masuk kelas.

Berkaitan dengan permasalahan/kendala dan masukan tersebut, Direktorat PembinaanSMA melengkapi panduan pengembangan diri yang telah ada dengan “Petunjuk TeknisPenyusunan Program Pengembangan Diri Melalui Kegiatan Ekstrakurikuler di SMA”. Panduan selengkapnya siakan KLIK  : 14-juknis-pd_ektstrakurikuler__isi-revisi__0104

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s